Efektifitas Penggunaan Tanaman Kangkung (Ipomoea aquatica), Kayu Apu (Pistia stratiotes), dan Eceng gondok (Eichhornia crassipes) terhadap Penurunan Kadar Nitrat dan Fosfat pada Limbah Cair PT. Sasa Inti Gending Probolinggo

Selasa, 16 Maret 2010

Oleh : Anggraini Ratih Purwandari

1. PENDAHULUAN

Limbah industri pangan secara umum dapat menimbulkan permasalahan lingkungan, karena dalam prosesnya menyisakan unsur-unsur yang dapat menjadi ikutan air proses dan dibuang ke lingkungan. Sebagai contoh limbah dari industri vetsin. Limbah cair PT. Sasa Inti mengandung nitrat dan fosfat yang cukup tinggi, karena di dalam proses produksinya menggunakan unsur urea, sedangkan bahan bakunya menggunakan tetes tebu. Apabila bahan-bahan tersebut masuk ke suatu perairan, maka akan memicu terjadinya eutrofikasi perairan. Melihat adanya kandungan air limbah tersebut maka dapat digunakan tanaman air (kangkung, kiambang dan eceng gondok) sebagai penyerap kandungan limbah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaaan penyerapan nitrat dan fosfat oleh tanaman air yang berbeda (kangkung, kayu apu dan eceng gondok) dalam upaya menurunkan kadar nitrat dan phospat dari limbah cair PT. Sasa Inti. Penelitian dilaksanakan di laboratorium PT. Sasa Inti Gending Probolinggo pada bulan April-Mei 2009.

2. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan adalah eksperimen, yaitu dengan melakukan percobaan terhadap 4 perlakuan meliputi kontrol, tanaman air kangkung, kayu apu dan eceng gondok yang ditanam pada media bak percobaan berisi air limbah PT. Sasa Inti serta 4 kali ulangan perlakuan dan dan 3 ulangan waktu pengamatan yaitu pada minggu 1, 2 dan 3. Untuk mencapai tujuan penelitian, percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAL faktorial). Dalam percobaan RAL setiap unit percobaan ditempatkan secara acak serta tidak mengikuti suatu pola baris atau lajur tertentu.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Perlakuan menggunakan tanaman air yang berbeda yaitu kangkung (Ipomoea aquatica), kayu apu (Pistia stratiotes), dan eceng gondok (Eichhornia crassipes) memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap penurunan kadar nitrat dan fosfat dalam limbah cair PT. Sasa Inti. Hasil perhitungan terhadap kadar nitrat menggunakan Uji F diperoleh nilai F hitung perlakuan sebesar 13,573 dimana nilai F hitung ini lebih besar dari F tabel 5% = 2,80 dan F tabel 1% = 4,38 sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian tanaman air yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan kadar nitrat limbah cair PT. Sasa Inti.. Sedangkan nilai F hitung terhadap waktu pengamatan yang berbeda sebesar 29,019 dimana nilai F hitung ini lebih besar dari F tabel 5% = 3,26 dan F tabel 1% = 5,25 sehingga menunjukkan bahwa waktu pengamatan yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan kadar nitrat limbah cair PT. Sasa Inti. Sementara pada interaksi antara perlakuan dan waktu pengamatan yang berbeda nilai F hitung sebesar = 6,529 dimana nilai F hitung ini lebih besar dari F tabel 5% = 2,34 dan F tabel 1% = 3,35 sehingga menunjukkan bahwa interaksi antara kedua faktor tersebut berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan kadar nitrat limbah cair PT. Sasa Inti. Sedangkan untuk menentukan perlakuan terbaik dan waktu pengamatan terbaik serta interaksi antara perlakuan dan waktu pengamatan dilanjutkan dengan analisis uji Duncan dan didapatkan nilai 3,004 – 4,479. Nilai tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai BJND untuk menentukan perlakuan terbaik. Berdasarkan hasil uji Duncan didapatkan bahwa perlakuan terbaik adalah kayu apu (C) diikuti perlakuan eceng gondok (D) kemudian kangkung (B) dan yang terakhir adalah perlakuan kontrol (A). Sedangkan waktu pengamatan yang optimum adalah pada minggu ke-2 dan ke-3. 

Analisis kadar fosfat dapat diketahui melalui perhitungan menggunakan Uji F, dimana nilai F hitung perlakuan diperoleh sebesar 65,5. Nilai F hitung tersebut lebih besar dari F tabel 5% = 2,80 dan F tabel 1% = 4,38 sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian tanaman air yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan kadar fosfat pada limbah cair PT. Sasa Inti. Sedangkan nilai F hitung terhadap waktu pengamatan yang berbeda sebesar 8,0 dimana nilai F hitung ini lebih besar dari F tabel 5% = 3,26 dan F tabel 1% = 5,25 sehingga menunjukkan bahwa waktu pengamatan yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan kadar fosfat limbah cair PT. Sasa Inti. Sementara pada interaksi antara perlakuan dan waktu pengamatan yang berbeda nilai F hitung sebesar = 2 dimana nilai F hitung ini lebih kecil dari F tabel 5% = 2,34 dan F tabel 1% = 3,35 sehingga menunjukkan bahwa interaksi antara kedua faktor tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar nitrat limbah cair PT. Sasa Inti. Sedangkan untuk menentukan perlakuan terbaik dan waktu pengamatan terbaik dilanjutkan dengan analisis uji Duncan dan didapatkan nilai 0,223 – 0,453 dan dari nilai tersebut dibandingkan dengan nilai BJND untuk menentukan perlakuan terbaik. Berdasarkan uji Duncan diperoleh perlakuan terbaik adalah kayu apu (C) diikuti eceng gondok (D) kemudian kangkung (B) dan yang terakhir adalah perlakuan kontrol (A). Sedangkan waktu pengamatan yang baik adalah pada minggu ke-1 sampai ke-3. 

Perlakuan menggunakan kangkung (Ipomoea aquatica) diperoleh penurunan nitrat dan fosfat masing-masing sebesar 36,5% dan 25,2%. Perlakuan menggunakan kayu apu (Pistia stratiotes) diperoleh peunurunan nitrat dan fosfat masing-masing sebesar 69% dan 57,2%. Sedangkan, perlakuan menggunakan eceng gondok (Eichhornia crassipes) diperoleh penurunan nitrat dan fosfat masing-masing sebesar 63,9% dan 49%. Berdasarkan persentase total penurunan nitrat dan fosfat dalam limbah cair PT. Sasa Inti oleh masing-masing tanaman air tersebut, diperoleh perlakuan terbaik sejak minggu ke-1 hingga minggu ke-3 adalah tanaman air kayu apu (Pistia stratiotes). Sedangkan parameter kualitas air lainnya seperti suhu berkisar antara 31,75 0C – 40,1 0C dan pH berkisar antara 7.685-9.435.

4. KESIMPULAN
Berdasarkan kegiatan penelitian yang sudah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
• Perlakuan menggunakan tanaman air yang berbeda yaitu kangkung (Ipomoea aquatica), kayu apu (Pistia stratiotes), dan eceng gondok (Eichhornia crassipes) memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap penurunan kadar nitrat dan fosfat yang terkandung dalam limbah cair PT. SASA INTI.
• Perlakuan menggunakan tanaman air kangkung (Ipomoea aquatica) mempunyai total persentase penurunan nitrat sebesar 36,5 % dan fosfat sebesar 25,2 %.
• Perlakuan menggunakan tanaman air kayu apu (Pistia stratiotes) mempunyai total persentase penurunan nitrat sebesar 69 % dan fosfat sebesar 57,2 %.
• Perlakuan menggunakan tanaman air eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai total persentase penurunan nitrat sebesar 63,9 % dan fosfat sebesar 49%.
• Nilai penurunan rata-rata nitrat oleh masing-masing tanaman air didapatkan bahwa penurunan kadar nitrat tertinggi pada perlakuan kayu apu pada minggu ke-2 dan minggu ke-3.
• Nilai penurunan rata-rata fosfat oleh masing-masing tanaman air didapatkan bahwa penurunan kadar fosfat tertinggi pada perlakuan kayu apu pada minggu ke-1 sampai minggu ke-3.
• Nilai penurunan rata-rata nitrat sekaligus fosfat oleh masing-masing tanaman air didapatkan bahwa kayu apu merupakan jenis tanaman air yang paling efektif untuk menurunkan kadar nitrat dan fosfat pada limbah cair PT. SASA INTI dibandingkan dua jenis tanaman air lainnya yaitu kangkung dan eceng gondok.

5. SARAN
Berdasarkan kegiatan penelitian yang sudah dilaksanakan, maka dapat disarankan bahwa :
• Perlu dilakukan penelitian serupa dengan sistem kontinyu (air mengalir) pada tempat yang sebenarnya yaitu pada bak instalasi limbah cair PT. SASA INTI.
• Perlu penelitian lanjutan dengan menggunakan makrofita lainnya dan dengan tingkat kerapatan yang berbeda.
• Pembuatan Glass house hendaknya hindari bahan yang terbuat dari plastik karena dapat memerangkap panas yang nantinya dapat meningkatkan suhu ruang dan air.


Lihat artikel saya lainnya, tentang :



Mangrove

Virus IMNV

Fitoremediator CU

Evaluasi Perencanaan MDM (Sub-Sub DAS S. Sampean)

Evaluasi Perencanaan (Sub-Sub DAS S. Brantas)

Evaluasi Perencanaan MDM (Sub-Sub DAS S. Brantas)

Efektifitas tanaman air untuk menyerap Nitrat dan Fosfat

0 komentar: